Kota Cilegon yang dijuluki sebagai Kota Baja di Banten, merupakan pusat industri berat yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional. Namun, aktivitas industri yang masif membawa dampak samping berupa akumulasi residu kimiawi di lingkungan sekitar pemukiman. Menanggapi hal tersebut, HAKLI wilayah Cilegon melakukan sebuah inisiatif penting berupa Pemetaan Risiko pencemaran tanah. Fokus utama dari riset lapangan ini adalah mengidentifikasi keberadaan Logam Berat yang mungkin telah terdeposit di tanah pemukiman dan pertanian akibat sisa emisi udara maupun limpasan air hujan dari kawasan industri selama berpuluh-puluh tahun.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel tanah di berbagai titik strategis yang berdekatan dengan zona industri. Para ahli kesehatan lingkungan dari HAKLI menguji parameter logam seperti merkuri, timbal, kadmium, dan kromium heksavalen. Keberadaan unsur-unsur ini di Lahan Warga sangat berbahaya karena dapat masuk ke dalam rantai makanan melalui tanaman yang dikonsumsi masyarakat atau mencemari sumber air sumur dangkal. HAKLI di Cilegon berupaya memberikan data berbasis bukti (evidence-based) mengenai wilayah mana saja yang memerlukan perhatian khusus dan tindakan remediasi segera guna melindungi kesehatan masyarakat lokal.
Selama proses pemetaan, HAKLI juga menganalisis kaitan antara konsentrasi logam berat di tanah dengan profil kesehatan warga setempat. Pemaparan logam berat secara kronis dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal, kerusakan saraf, hingga gangguan pertumbuhan pada anak-anak. Melalui audit lingkungan yang komprehensif, para ahli ini menyusun zonasi tingkat bahaya untuk memberikan peringatan dini bagi warga yang masih memanfaatkan lahan di sekitar industri sebagai kebun produktif. Inisiatif ini adalah bagian dari upaya penegakan hak warga atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat di tengah kepungan pabrik besar.
Edukasi kepada masyarakat menjadi pilar penting dalam program ini. HAKLI mengajarkan warga cara membedakan gejala klinis akibat keracunan logam dan bagaimana melakukan mitigasi mandiri, misalnya dengan tidak menanam sayuran berdaun lebar di lahan yang memiliki tingkat kontaminasi tinggi. Di Pemetaan Risiko, tantangan ini membutuhkan kerja sama lintas sektor antara pemerintah, industri, dan praktisi kesehatan. Dengan adanya peta risiko yang jelas, industri didorong untuk lebih memperketat sistem pengolahan limbah dan emisi mereka agar tidak memberikan dampak kumulatif bagi tanah yang menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitar.