Sebagai kota yang dikenal dengan kawasan industrinya yang masif, Cilegon memiliki tantangan lingkungan yang sangat kompleks, tidak hanya berkaitan dengan limbah cair dan udara, tetapi juga polusi suara. Interaksi antara pemukiman warga dengan zona industri dan jalur transportasi logistik sering kali menciptakan tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas normal. HAKLI Cilegon sebagai organisasi profesi kesehatan lingkungan memberikan perhatian khusus terhadap risiko kesehatan non-visual ini karena pengaruhnya yang perlahan namun pasti merusak kualitas hidup manusia. Selain masalah kebisingan, organisasi ini juga aktif memberikan edukasi terkait dampak emisi gas guna memberikan pemahaman komprehensif tentang risiko kesehatan di lingkungan industri. Memahami dampak paparan dari kebisingan jangka panjang sangat penting bagi warga untuk melakukan langkah-langkah proteksi diri dan menuntut standar lingkungan yang lebih sehat.
Paparan kebisingan secara terus-menerus di atas 85 desibel dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel rambut halus di dalam telinga. Di HAKLI Cilegon, para tenaga sanitarian sering menemukan keluhan dari masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pabrik mengenai gangguan pendengaran dini. Kebisingan jangka panjang menyebabkan ambang dengar seseorang menurun secara bertahap, yang sering kali tidak disadari hingga kondisinya sudah cukup parah. Selain gangguan fungsi pendengaran (Noise-Induced Hearing Loss), kebisingan konstan juga memicu stres kronis pada sistem saraf manusia karena tubuh terus-menerus berada dalam kondisi waspada atau respons fight-or-flight.
Dampak kebisingan bagi kesehatan mental dan psikologis warga Cilegon juga menjadi fokus pengawasan HAKLI. Lingkungan yang bising mengganggu pola tidur dan istirahat, yang pada akhirnya memicu kelelahan berlebih, iritabilitas, dan kesulitan berkonsentrasi. Bagi anak-anak sekolah yang tinggal di daerah bising, paparan suara mesin industri atau kendaraan berat secara terus-menerus dapat menghambat kemampuan belajar dan perkembangan kognitif mereka. Ketidakmampuan untuk mendapatkan ketenangan di rumah sendiri menurunkan kesejahteraan emosional warga secara keseluruhan, yang jika dibiarkan dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan hingga depresi.