Biota Laut: Indikator Kesehatan Ekosistem Bawah Air

Lautan adalah jantung planet kita, rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Namun, di tengah keindahan dan misterinya, kesehatan lautan semakin terancam oleh aktivitas manusia. Untuk memahami kondisi ekosistem bawah air, kita tidak perlu mengukur setiap parameter air secara rumit. Cukup dengan mengamati kehidupan yang ada di dalamnya, karena biota laut bertindak sebagai indikator kesehatan lingkungan yang paling akurat. Keberadaan dan kondisi mereka mencerminkan seberapa baik ekosistem tersebut berfungsi, dan sebaliknya, hilangnya mereka menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Salah satu contoh paling jelas dari peran biota laut sebagai indikator adalah terumbu karang. Terumbu karang adalah ekosistem yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan keasaman air. Ketika lautan memanas atau menjadi lebih asam akibat peningkatan karbon dioksida di atmosfer, karang akan mengalami pemutihan dan akhirnya mati. Kondisi terumbu karang yang sehat, dengan warna-warni yang cerah dan beragam kehidupan di sekitarnya, menunjukkan bahwa lingkungan laut berada dalam kondisi optimal. Sebaliknya, terumbu karang yang memutih atau rusak adalah tanda peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di bawah permukaan. Pada 14 Mei 2025, sebuah tim peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi menemukan bahwa terumbu karang di perairan Kalimantan Timur mengalami pemutihan massal. Hal ini diduga terkait dengan peningkatan suhu air laut yang signifikan di wilayah tersebut.


Selain terumbu karang, spesies tertentu juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem. Misalnya, keberadaan dan populasi udang karang atau ikan-ikan predator besar seperti hiu, dapat menunjukkan stabilitas rantai makanan. Jika populasi ikan-ikan ini menurun drastis, bisa jadi karena adanya penangkapan ikan yang berlebihan atau karena hilangnya sumber makanan utama mereka. Sebaliknya, pertumbuhan pesat alga atau jenis ikan tertentu yang tidak biasa dapat mengindikasikan ketidakseimbangan nutrisi di perairan, seringkali akibat polusi dari daratan.

Penting untuk diingat bahwa setiap tindakan kita di darat, pada akhirnya, akan memengaruhi kehidupan di laut. Sampah plastik, limbah industri, dan pupuk pertanian mengalir melalui sungai dan berakhir di lautan, merusak habitat dan membahayakan biota laut. Pada hari Minggu, 10 November 2025, dalam sebuah acara bersih-bersih pantai di sebuah kawasan di Jakarta Utara, seorang petugas kepolisian dari Polsek Metro Penjaringan menemukan banyak sampah plastik yang tersangkut di antara akar mangrove. Petugas tersebut kemudian mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan agar biota laut dapat hidup dengan baik.


Pada akhirnya, melindungi biota laut adalah melindungi diri kita sendiri. Kesehatan lautan secara langsung berhubungan dengan ketahanan pangan, kualitas udara, dan iklim global. Dengan memahami dan bertindak berdasarkan sinyal yang diberikan oleh biota laut, kita dapat berkontribusi pada upaya konservasi yang lebih efektif dan memastikan bahwa warisan alam ini dapat dinikmati oleh generasi mendatang.