Salah satu tantangan terbesar dalam menjaga kebersihan gunung adalah manajemen limbah padat yang seringkali terabaikan karena sulitnya akses transportasi pengangkutan sampah. Oleh karena itu, penyediaan sarana sampah terpilah menjadi solusi edukatif sekaligus teknis untuk mempermudah proses daur ulang. Dengan memisahkan antara sampah organik, plastik, dan kaleng sejak dari titik pendakian, beban lingkungan dapat dikurangi secara signifikan. Para sanitarian menyadari bahwa tanpa sistem pemilahan yang jelas, sampah-sampah tersebut hanya akan berakhir menjadi tumpukan polutan yang merusak estetika dan kesehatan tanah.
Implementasi fasilitas ini diletakkan pada titik-titik strategis di sepanjang jalur pendakian yang sering menjadi tempat beristirahat para pendaki. Penempatan wadah sampah yang tahan cuaca dan memiliki desain yang mencegah hewan liar membongkarnya adalah standar teknis yang diperhatikan. HAKLI juga memberikan edukasi kepada para pemandu lokal dan pengelola pos pendakian mengenai pentingnya pengawasan terhadap barang bawaan pendaki yang berpotensi menjadi sampah abadi di atas gunung.
Selain masalah visual, Sampah Terpilah yang menumpuk di area pegunungan dapat mencemari sumber mata air yang biasanya mengalir ke pemukiman penduduk di kaki gunung. Jika sampah plastik hancur menjadi mikroplastik dan masuk ke dalam tanah, maka kualitas air tanah di wilayah Cilegon akan terancam dalam jangka panjang. Inilah mengapa intervensi kesehatan lingkungan di area gunung sangat krusial. Melalui gerakan ini, para pendaki diajak untuk memiliki kesadaran kolektif bahwa mencintai alam berarti tidak meninggalkan jejak selain jejak kaki.
Penyediaan sarana sanitasi ini juga dibarengi dengan kampanye “Bawa Turun Sampahmu”. HAKLI berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan antara komunitas pecinta alam dengan sistem pengelolaan sampah kota. Sampah yang sudah dipilah di jalur pendakian akan lebih mudah diproses di tempat pembuangan akhir atau pusat daur ulang karena tingkat kontaminasinya rendah. Ini adalah bentuk nyata dari penerapan prinsip ekonomi sirkular di sektor pariwisata minat khusus.
Dalam proses auditnya, tenaga sanitarian juga memeriksa keberadaan fasilitas sanitasi dasar lainnya seperti ketersediaan jamban yang ramah lingkungan di pos-pos pendakian. Limbah manusia yang tidak dikelola dengan benar di ketinggian dapat memicu penyebaran bakteri patogen melalui aliran air hujan. Oleh karena itu, sinergi antara pengelolaan sampah dan sanitasi total menjadi harga mati bagi kelestarian jalur pendakian di wilayah Cilegon.